senja di pagi hari

Senja di pagi hari. Bukankah senja itu waktu sore? Ketika mentari mulai merangkak turun dan melukis warna jingga di kaki langit, membawa serta kehangatannya untuk digantikan oleh sang rembulan yang akan menemani para pemimpi dalam lelap.
:Cerpen Caswigiati (Inyong)
JABAR STYLE - Fajar menyingsing. Aku duduk di kursi tua, yang terbuat dari anyaman bambu. Kupandangi kursi kosong di samping kiri. Di sana, biasanya lelaki itu duduk sambil menunggu mentari beranjak naik, memancarkan sinarnya.
Setiap fajar menjelang, aku selalu teringat akan lelaki itu. Lelaki yang begitu aku cintai. Meski terkadang sikapnya menyebalkan, tapi ia selalu bisa membuatku tersenyum.
"Neng, tulis kisah tentang senjaku di pagi hari." Hari itu, ia kembali mengatakannya. Hal yang sama. Berulang-ulang, setiap malam menjelang.
Aku hanya mengernyitkan dahi menanggapinya. Entah apa maksud perkataan suamiku itu. Senja di pagi hari. Bukankah senja itu waktu sore? Ketika mentari mulai merangkak turun dan melukis warna jingga di kaki langit, membawa serta kehangatannya untuk digantikan oleh sang rembulan yang akan menemani para pemimpi dalam lelap.
Mana ada senja di pagi hari, Bang? Pagi itu ... fajar, bukan senja!" protesku, acap kali.
Ia hanya tersenyum menanggapi gerutuanku. Lantas sebelum terpejam, ia akan kembali berkata, "Nanti tulis tentang senjaku di pagi hari, ya."
Aku mendengkus, lalu menutupi diri dengan selimut dan bergeming kala ia menelusupkan tangannya, memeluk perutku.
Bertahun-tahun berlalu. Meski ia tak lagi di sisiku, kata-kata itu masih terus terngiang di telinga, memenuhi kepala.
Tak pernah kusangka, hari itu ... adalah hari terakhir kebersamaanku dengannya. Di pagi hari yang terasa lebih dingin dari pagi-pagi sebelumnya, ia mengatakan lagi, "Neng, nanti tulis senjaku di pagi hari, yaa."
Dan, aku tetap saja bergeming. Hingga beberapa saat usai mengatakannya, mata lelaki itu terpejam. Tak pernah lagi terbuka.
Komentar
Posting Komentar